Minggu, 02 Oktober 2011

Negara Islam Indonesia Dan Dillema Partai Politik


Abstrak
Sejak awal berdiri, Negara Islam Indonesia (NII) mengalami berbagai metamorfosis. dari  dipimpin oleh kartosuwiryo yang gerakannya murni gerakan agama, sampai NII KW 9 yang mulai merambahke arah ekonomi, pendidikan dan politik. NII menggunakan berbagai cara untuk menyebarkan ajarannya, bahkan terkesan menghalalkan, segala cara untuk mencapai tujuannya yaitu mendirikan Negara Islam.
Hal menarik yang patut kita kaji, NII mampu menyelundupkan kader – kadernya ke dalam partai politik. Yang harapannya mereka mampu merubah ideologi pancasila menjadi ideologi islam melalui konstitusi. Di sini partai politiklah yang punya tanggung jawab besar terkait masalah ini. Partai tidak melakukan fungsinya dengan baik. Rekruitmen politik tidak menekankan kualitas kader tetapi lebih mementingkan kuantitas. Sehingga partai cenderung mengabaikan platform dan  ideologinya. Di sini yang menjadi titik awal menyusupnya NII ke partai politik.
Melalui proses rekrutmen politik yang bagus dan tegas tentunya bisa mengatasi permasalahan – permasalahan diatas. Tidak hanya itu, untuk mengetahui pemahaman yang benar mengenai Negara ini Pancasila menjadi landasan yang tak terbantahkan lagi saat ini. Pancasila sangatlah relevan sebagai Modal sosial, Moral, Ideologi dan Historis. Dan mampu menjadi obat penawar terhadap maraknya radikalisme yang ada di Indonesia saat ini.


Sejarah NII
`           Sejak Negara Indonesia berdiri lebih dari 60 tahun paskah kemerdekaan yang di proklamirkan tahun 1945 sampai saat ini, ancaman demi ancaman bermunculan mengancam keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI). Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada masa awal – awal kemerdekaan Indonesia dan sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah yaitu berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).
            Negara islam yang kemunculannya oleh banyak kalangan dianggap sebagai sakit hati kalangan islam dan bersifat spontanitas karena adanya vacum of power di Indonesia. Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo adalah orang yang berperan besar dalam pendirian ini, dia mendirikan darul islam dan tentara islam indonesia  (DII/TII). Yang menjadi cikal bakal berdirinya negara islam indonesia.
Negara Islam Indonesia (NII)  mengalami metamorfosis beberapa kali setelah era Kartosiwiryo. NII yang ingin merubah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) menjadi negara Islam Indonesia, memiliki struktur komandemen dari tingkat pusat hingga wilayah yang terdiri dari tujuh komandemen wilayah. (Kompas 4 Mei 2011)
Kartosuwiryo dieksekusi tahun 1962, tetapi ada seratus lebih rekan seideologis Kartosuwiryo yang kemudian melanjutkan perjuangan dari Kartosuwiryo untuk mendirikan NII.  (Kompas 7 mei 2011)
Untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Kartosuwiryo, Abdah Djaelani diangkat sebagai imam NII setelah diadakan pertemuan di Tangerang pada 1 Juli 1979. Abdah Djaelani memperluas teritorialnya dengan membentuk dua komandemen baru yaitu KW 8 dan KW 9. KW8 meliputi Lampung dan KW9 atau Jakarta Raya yang meliputi Jakarta, Tangerang, Banten dan Bekasi.
Tahun 1996 Adah Djaelani menyerahkan posisi imam kepada Abu Toto alias Panji Gumilang yang kemudian menamakan gerakannya dengan embel – embel KW 9. NII KW 9 memiliki program tersendiri, tahun 2005 – 2009 targetnya yaitu mewujudkan hukum islam yang berlaku secara de facto dan de jure di wilayah. Bahkan kalau kita mengamati pola struktur dari NII KW 9, persis sama seperti Negara yang lengkap dengan MPR, President, dan Menterinya. NII KW 9 juga memiliki program teritorial yang tugas utamanya mengumpulkan orang untuk dijadikan anggota dan mengumpulkan dana.
Gerakan NII sangat rapi. Gerakan NII tidak seperti gerakan teroris yang melakukan aksi-aksinya melalui serangkaian bom dan aksi kekerasan lainnya. Namun, dengan melalui gerakan cuci otak, gerakan NII ini masuk ke kampus-kampus, SMP, dan SMA sederajad. (nii-crisis-center.com)
Dalam upaya perekrutan anggota dan pencarian dana, NII melakukan berbagai cara salah satunya dengan pencucian otak (Brain Wash). Ada tiga hal yang menjadi entry point dalam cuci otak ala NII : Berislam secara kaffah (terutama dalam dasar Negara), Berjihat ala NII, dan diperbolehkannya berbohong kepada orang lain termasuk orang tua sendiri.
Seluruh pengambilan dasar pemikiran ini didasarkan kepada ayat – ayat di dalam Al – quran yang penafsirannya dilakukan secara ra’yi (berdasarkan akal semata), atomistik (terpisah - pisah) dan memaksakan kehendak, dan penuh pendangkalan makna.
Diawali dengan konsep negara islam tersebut, penafsiran yang dikaitkan dengan negara, birokrasi, pemerintahan dan sunnah Rasulullah disesuaikan dengan kategori jamaah masing-masing. Jadi, setiap mas’ul (pemimpin) memiliki hak untuk berimprovisasi untuk meyakinkan jamaahnya demi tercapainya program-program yang dicanangkan oleh NII KW9. Yang jelas, penanaman nilai yang dilakukan kepada jamaahnya berorientasi pada pemahaman bahwa negara Islam adalah satu-satunya institusi yang diridhoi Allah, lain tidak. Otomatis, selain apa yang mereka pahami adalah batil dan orang-orang yang belum berhijrah menjadi warga negara NII KW9 adalah kafir. Termasuk orang tuanya sendiri.
Sesuai dengan sistem pemerintahan pada umumnya, NII KW9 memiliki sistem pemerintahan bayangan yang serupa dengan RI. Struktur pemerintahan dari tingkat Kelurahan sampai Presiden sudah tertata rapi. Sehingga bagi jamaah yang sudah tertanam tauhid RMU semakin menemukan dirinya dalam suasana kenegaraan, walaupun kantor kelurahannya baru kontrakan ke kontrakan. Seluruh aktifitas jamaah dibingkai dalam birokrasi negara. Dari izin keluar kota, izin nikah, izin menebus dosa sampai setoran infaq diatur dalam koridor kenegaraan yang hirarkis dan penuh dengan paper work administratif. Suasana inilah yang meninggikan mental mereka dan seakan membedakan mereka dari kelompok Islam lain yang dianggap hizbiyyah. Memerangi negara harus dengan negara menurut mereka. (nii-crisis-center.com)
Nii dan Parpol
Ternyata ada hal menarik yang dapat kita kaji terkait masalah NII dan perpolitikan di Indonesia. NII ternyata berhasil  menyusupkan kader – kadernya kedalam partai politik. Gerak negara islam indonesia (NII) mulai menyusup ke parpol tidak hanya merekrut para pelajar dan mahasiswa, menurut Imam Supriyanto, yang mengaku sebagai Menteri peningkatan produksi NII KW 9 tahun 1997 – 2007, anggota NII disusupkan keberbagai kalangan pada era kebebasan ini, NII lebih Mudah menyusupkan anggota ke partai politik (tempointeraktif.com)
Di sini NII sudah menggunanakan berbagai jalur untuk mensukseskan tujuannya, mulai dari jalur Agama, jalur pendidikan, jalur ekonomi, bahkan jalur politik. Jalur politiklah yang sangat potensial dan ini terbukti dengan kedekatan NII dengan beberapa partai politik dan beberapa tokoh – tokoh politik.
Ketika pemilihan umum tahun 1999, aparat Fungsional NII KW9 Abu Toto melaksanakan pemilu di Ma’had Al Zaytun dan diwajibkan untuk memilih Golkar. Dan ketika pemilu tahun 2004, seluruh umatnya diwajibkan memilih Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan R. Hartono dan Tutut. Sedangkan untuk pemilihan presiden, Abu Toto mengerahkan 4000 aparat fungsional dan 9.000 aparat Teritorialnya untuk mencoblos di Ma’had Al Zaytun. Hasilnya, hampir genap 13.000 orang memilih pasangan Wiranto-Solahudin Wahid. Sebelum ada Al Zaytun, NII paling anti dengan partai.               .                                              (nii-crisis-center.com)
Tidak hanya itu, kader – kader terbaik NII juga disiapkan untuk mengikuti pemilihan calon Legislatif baik di tingkat daerah maupun di tigkat pusat. Mereka tidak masuk partai karena ketertarikan mereka dengan ideologi partainya, tapi karena ada tujuan – tujuan terselubung dari NII itu sendiri.
Dengan memasukkan kader – kader NII ke partai politik, mereka berharap konstitusi negara yang sekarang Pancasila bisa diubah menjadi Negara Islam yang dapat mereka upayakan melalui parlemen. Dengan begitu tujuan untuk mendirikan Negara islam akan bisa dilaksanakan.
Di indonesia parpol menjadi kunci utama bagai keberlangsungan demokrasi. Melalui parlement parpol mampu berbicara banyak. Pemilihan MK, MA, KPK, semua dipilih melalui parpol. Pembuatan undang – undang dan pengawasan juga di lakukan oleh parpol yang ada di parlemen (Kompas 20 juni 2011)
            Bagaimana jika partai politik yang begitu penting bagi keberlangsungan bangsa ini disusupi oleh orang – orang yang tidak jelas seperti NII? Tentunya ideologi Pancasila akan terancam. Dan di sini partai politik lah yang paling bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi.
Kenapa kader – kader NII mampu masuk dan menerobos partai politik yang ada?  Menurut RidhoImawanHanafi, ada dua hal yang menyebabkan itu bisa terjadi :
 Pertama sebagai salah satu pilar demokrasi, parpol merupakan institusi politik yang dapat digunakan sebagai wadah artikulasi kepentingan melalui parpol, perjuangan politik termasuk yang terkait dengan perubahan ideologi negara dapat diupayakan selama hal tersebut memenuhi kaidah demokrasi. Oleh NII dengan memasukkan kadernya ke partai politik dihatapkan mempengaruhi kebijakan parpol dalam hal ideologinya.
Kedua partai politik telah lalai dalam menjalankan fungsi kaderisasi dan rekruitmen politik, kadersasi dan rekruitmen politik merupakan proses untuk mendapatkan anggota baru dan mengajak orang untuk berpartisipasi dalam politik. Di sini kontinuitas atau eksistensi partai ditentukan, sekaligus untuk menyeleksi calon pemimpin. Kelenganhan parpol dalam menjalankan fungsi ini membuat parpol rentan dimasuki  oleh orang dengan ideologi yang menyimpang.
Masalah kaderisasi partai adalah masalah utama saat ini, partai cenderung memakai kader – kader instan. Parpol cenderung mengabaikan platform dan ideologi partainya untuk memburu kemenangan. Dan kader – kader instan hanya di kenalkan dengan visi dan misi normatif partai tidak melalui jenjang pengkaderan yang baik.
Selama ini fungsi rekruitmen partai politik hanya berorientasikan pada mencari kuantitas kader partai. Ketika ini terjadi, terutama pada partai – partai besar yang ada. Maka ideologi partai yang semula jelas akan tertimbun oleh ketidakjelasan kader yang menumpuk. Dan orientasi partai bukan lagi pada penerapan ideologinya tetapi beralih ke pencarian kader dengan skala kuantitas.
Proses rekruitmen yang selektif sebenarnya bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan permasalahan ini meskipun dengan jumlah kader yang banyak. Tetapi lagi – lagi proses selektif tidak dilakukan oleh partai politik sehingga ini bisa menjadi bumerang pagi partai itu sendiri karena partai akan memberi peluang kepada orang – orang dengan ideologi yang tidak jelas untuk menyokong partainya salah satunya NII ini.
Menyadari ancaman seperti itu, seharusnya partai politik harus mulai berbenah untuk memperbaiki sitemnya dan pola recruitmen partai. Partai harus tegas dengan menutup rapat – rapat bagi kader yang ideologinya tidak jelas apalagi ideologi yang berusaha mengganti ideologi negara seperti NII. Sedikit saja parpol memberi kesempatan pada NII untuk masuk ke dalam partai, maka sama halnya memberi kesempatan untuk menggadaikan indeologi pancasila kita.
Bangaimana bisa memberikan pendidikan politik yang baik, kalau kader partainya saja tidak mengenal platform dan spektrum ideologi partainya.

Solusi dari Sebuah Permasalahan  
            Reformasi pada partai politik harus segera dilaksanakan, terutama terkait masalah pembenahan sistem dan pola recruitmen partai. Recruitmen partai harus mengutamakan kualitas kader bukan berorientasi pada kuant1itas kader. Partai politik harus benar – benar selektif dalam memilih calon kader partai, supaya jelas ideologi dan tujuan partai. Dan tidak disusupi oleh orang – orang yang tidak sesuai dengan platform partai.
            Dari rangkaian permasalahan diatas, kita semua harus benar – benar sadar akan pentingnya arti semangat kebangsaan. Pancasila adalah ideologi final yang sudah tidak relevan lagi untuk diperdebatkan. Zuhairi misrawi mengata, “ penanaman nilai –nilai yang kuat terhadap UUD 1945 dan pancasila bisa menjadi upaya deradikalisasi di Indonesia.” (www.petiknews.com)
            Pancasila harus kembali kita gelorakan karena ini akan menjadi alat pemersatu bangsa dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Pancasila adalah obat penawar bagi maraknya gerakam NII yang sekarang mencuat. Penanaman nilai – nilai pancasila harus mulai digalakkan dengan pendekatan – pendekantan yang lebih soft. Pendidikan sejak dini harus mulai diupayakan oleh pemerintah
Pancasila tetaplah menjadi modal penting untuk menghadapi radikalisasi yang marak terjadi saat ini. Pancasila sangatlah relevan sebagai Modal sosial, Moral, Ideologi dan Historis. Ketika pemerintah gagal mensejahterakan warganya, warga berpaling kepada ide – ide dan aliran – aliran yang abstrak dan tampak lebih menarik seperti Negara Islam dan lain sebagainya. (Kompas 9 Juni 2011)



Daftar Pustaka

Daroeso, Bambang. 1989. Filsafat pancasila. Liberty press. Yogyakarta
Kompas 4 Mei 2011
Kompas 7 Mei 2011
Kompas 9 Mei 2011
Kompas 20 Juni 2011

Diakses pada tanggal 12 Juni 2011
www. Kompas.com
www. Nii-crisis-center.com
www. Tempoiteraktif.com

Diakses tanggal 26 Juni 2011
http://petiknews.com/tag/pancasila-dan-radikalisme
http://www.indopos.co.id/index.php/nasional


Tidak ada komentar:

Posting Komentar